Selamat Jalan Pak Harto
Setelah 24 hari kita disuguhkan dengan berita sakitnya Pak Harto, akhirnya Mingu 27 Januari 2008 pukul 13:10 Pak Harto meninggalkan kita menuju Sang Khalik. Sontak pemberitaan berubah topik. Pemerintah, Keluarga sibuk menyiapkan segala sesuatu dengan pemakaman.
Pak Harto, sosok penuh senyum. Senyum penuh makna. Tenang, berwibawa dan tegas. Menjadikan dirinya pemimpin negeri ini, Indonesia selama 3 dekade, 32 tahun tepatnya. Selama memimpin banyak prestasi yang ditorehnya. Stabilitas ekonomi menjadi raihan pertama, stabisilitas menjadi raihan kedua. Itulah yang menjadi sukses kepemimpinannya. Dari sisi ekonomi, Indonesia berhasil seperti sekarang, menjadi negara yang tidak miskin lagi, walaupun masih terdaat rakyat miskin. Keberhasilan menurunkan inflasi, dan swa sembada pangan adalah bukti sahih prestasi Pak Harto.
Namun, hal tersebut tak lepas dari hal negatif. Rapuhnya pilar ekonomi, korupsi yang merajalela menjadi sisi negatif dalam hal ekonomi.
Dari sisi politik, di balik kestabilan ternyata menimbulkan ekses yang menyakitkan bagi aktivis dan masyarakat kalangan menengah ke atas. Sepak terjang Pak Harto dalam rangka menstabilkan politik Indonesia dianggap mengebiri kebebasan berdemokrasi. Bahkan Demokrasi Pancasila digambarkan lebih terpimpin daripada demokrasi terpimpinnya Bung Karno. Belum lagi pelanggaran HAM yang di alami oleh para penentangnya.
Itulah sedikit gambaran plus minus Pak Harto saat. Baik buruknya seseorang dilihat dari mana kita menilainya. Perbedaan perspektif, cara pandang seseorang menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Ketika pertanyaan “Apa kesan anda tentang pak Harto?” di berikan masyarakat, hasilnya memang perebedaan.
Rakyat menengah ke bawah, menganggap Pak Harto adalah pahlawan. Pernah suatu ketika naik ojek dari Kp. Melayu, iseng-iseng membahas keadaan ekonomi saat itu, sekitar tahun 2004. Bang, bagaimana kehidupan abang saat ini? Cukup gak buat makan? buat sekolah? Jawaban jujur, lugu terlontar. Enakan jaman Pak Harto, apa-apa murah. Dan ternyata jawaban yang sama ada di mana-mana apabila pertanyaan itu ditanyakan ke mereka kalangan menengah ke bawah.
Namun bila pertanyaan yang sama diberikan ke Mahasiswa, kalangan aktifis, maka sebaliknya hujatan atau hal-hal negatif yang keluar. Pak Harto anti demokrasi, emlanggar HAM, biang bobroknya ekonomi, koruptor dan lainnya. Hal ini tidak lah sepenuhnya salah, karena mereka melihat dari perspektif yang berbeda.
Bagaimanapun, ada sejuta alasan untuk menghujatnya namun ada sejuta alasan pula untuk memujinya. Mari kita doakan semoga Pak Harto diterima di sisinya. Semoga kasus yang masih mengganjalnya terselesaikan. Selamat jalan Pak Harto, doa kami menyertaimu. Terlepas dari hal-hal kontroversial saat engkau memimpin.
Tags: indonesia, meninggal dunia, presiden ri, soeharto, suharto


January 28th, 2008 at 7:14 pm
Namun realita sekali lagi membuktikan (ini dari kalangan menengah lho …
) bahwa rakyat butuh perut yang terisi ketimbang permasalahan pengebirian politik yang saat ini sangat signifikan lebih parah dan korupsi merajalela hingga ke daerah-daerah yang menyebabkan lebih sengsaranya rakyat…. apakah itu reformasi??? kalo begini siapakah yang salah…… Ya reformasi itu bagi saya yang salah kaprah. Selama kurun waktu 9 tahun tidak pernah ada pemimpin yang berhasil membuat gebrakan baru dalam hal inisiatif pertumbuan ekonomi, teknologi, pangan, dan sosial kehidupan selain beliau. Saya juga aktifis, tp saya lebih realistis menghadapi kehidupan ketimbang bermanis bibir untuk meraih penghidupan dari menjual negara ini.
Pemimpin pasca beliau sampai saat ini belum bisa menyempurnakan, boro-boro menyempurnakan, mempertahankan yang sudah baik saja tidak bisa, bisanya hanya merusak……. ya itulah bangsa indonesia saat ini…. mudah2an jalan emas buat pak harto terbentang luas di padang masyhar… amin.
January 29th, 2008 at 10:12 am
Reformasi apaan.. ini bukan reformasi melainkan suatu pembenaran atas tindakan memerdekakan kepentingan golongan di atas kepentingan yang lebih besar.
Say Kampret to reformasi…